Akhir tahun 2019 yang lalu, saya traveling di Chiang Mai melanjutkan perjalanan saya dari Bangkok. Sebenarnya saya sudah sering dengar nama kota ini dari teman-teman digital nomad. Konon tempat ini adalah salah satu spot favorit para digital nomad, alias orang-orang yang kerjanya online. Jadi kelompok orang ini gemar berpindah dari satu negara ke negara lainnya sambil bawa kerjaannya.

Berbeda dengan Bangkok yang merupakan kota metropolitan surga belanja atau Phuket tempat liburan pantai, Chiang Mai lokasinya dekat dengan pegunungan di Thailand bagian utara. Saat saya berkunjung di bulan September 2019 yang lalu, kota ini terkesan tenang dan nyaman.

Meskipun bagi saya sepi, ternyata Chiang Mai merupakan sebuah kota terbesar ke dua di Thailand. Chiang Mai sendiri artinya adalah Kota Baru, karena dulu Chiang Mai merupakan ibu kota Kerajaan Lannathai setelah menggantikan Chiang Rai pada masa Raja Mengrai.

Traveling Aja Dulu Book Olivia Purba

Saya berangkat dari Bangkok ke Chiang Mai dengan kereta malam yang ada sleeping compartmentsnya. Untuk kereta Bangkok-Chaing Mai yang saya naiki kebetulan ada dua tipe kelas, dua-duanya ber-AC yakni 1st class dan 2nd class.  Bedanya yang kelas pertama areanya pribadi di bilik sendiri sementara yang 2nd class pemisahnya adalah tirai.

Di siang/sore hari hanya bisa di gunakan sebagai tempat duduk dan ajaibnya di malam hari, petugas menyulapnya menjadi tempat tidur dua tingkat. Kalau saya pribadi sebenarnya lebih suka 2nd class, karena 1st class buat saya claustrophobic.

Kereta Bangkok to Chiang Mai

Muka ngantuk setelah perjalanan Bangkok Chiang Mai 13 jam

Karena saya hanya memiliki waktu 3 hari di kota ini, saya berusaha memanfaatkan sebisanya mengunjungi banyak tempat wisata. Ini adalah 7 objek wisata utama rekomendasi saya kalau berkunjung ke Chiang Mai.

  1. Chiang Mai City

Kota Chiang Mai sangat cocok jadi tujuan wisata keluarga sampai solo traveller  karena punya tempat wisata yang terpusat di satu titik. Chiang Mai Old City adalah bekas ibu kota Kerajaan Lan Na yang terletak di tengah kota. Sampai saat ini, Chiang Mai Old City masih menyimpan 22 kuil peninggalan Kerajaan Lan Na yang berdiri megah di tengah bangunan-bangunan yang sudah direnovasi.

Mirip seperti Kota Tua Jakarta, namun dengan puncak-puncak pagoda berwarna emas menjulang di berbagai sudutnya. Saya sendiri sempat mencoba berkunjung ke salah satu kuilnya. Masuk ke sini harus berpakaian sopan. Untungnya selama di Chiang Mai saya selalu sediakan sarung yang handy banget untuk liat-liat kuil.

Warna emas kuilnya silau.

  1. Huay Keaw Waterfall

Air Terjun Huay Kaew adalah air terjun terdekat dengan kota Chiang Mai. Terletak di bagian bawah gunung di mana Jalan Huay Kaew berakhir, dan berada di sebelah Kebun Binatang Chiang Mai. Air terjun ini bebas masuk untuk siapa saja. Untuk melihat air terjun, kamu harus berjalan di jalan setapak di area pegunungan yang hijau. Kamu bisa mandi atau hanya mencelupkan kaki di air sungai yang sejuk dan dingin. Meskipun jalannya sempit, air terjunnya mudah diakses dan ada tempat parkir di luar pintu masuk.

Saya berkunjung ke air terjun ini di tengah hari, sehingga udara sudah mulai panas. Karenanya saya tidak sungkan menceburkan diri mandi di air terjun ini. Rasanya segar banget!

Perjalanan singkat saya 3 hari saya dokumentasikan juga di video Youtube ini, jangan lupa subscibe ya!

  1. Pong Yang Zipline

Pertama kali  saya cobain Zipline, waktu di Bohol Filipina. Pemandangan Zipline kearah sungai dan hamparan pohon tinggi yang  sangat alami, gak bisa terlupakan. Apalagi adrenalin juga terpacu dengan kecepatan ziplinenya. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan. Sejak itu jadi ketagihan cobain Zipline.

Pong Yang Zipline

Makananya begitu saya tahu di Chiang Mai ada kegiatan zipline juga, saya langsung cus ikutan. Zipline di are ini sangat menyenangkan dan menantang karena areanya lumayan luas, ada sungai dan air terjun mini dan hijau rindang banget!

  1. Moncham Onsen Chiang Mai

Ini adalah aktivitas personal favorit saya di Chiang Mai. Onsen Moncham dibuka tahun 2018 yang lalu di puncak gunung di distrik Mon Cham Chiang Mai. Resor kelas atas ini memiliki delapan kamar tamu dan delapan suite dan, tentu saja, sumber air panas bergaya Jepang tradisional yang dikenal sebagai “onsen.” Onsen ini mirip banget sama yang pernah saya coba di Jepang, termaksud untuk pemisahan gendernya. interior ruangan, pelayanan dan tanaman sekitar juga menyerupai atmosfer di Jepang. Saya seolah-olah merasa ada di Jepang bukan di Thailand.

Onsen Moncham Chiang Mai

Moncham ini sebenarnya menggunakan air mata air alami dari seratus meter di bawah permukaan bumi – sehingga pengunjung dapat berenang santai dengan kandungan mineral yang kaya  tembaga , magnesium, kalsium dan ion sulfat.

Setelah keluar di Onsen, saya di berikan Yutaka dan minuman Ocha, serta dipersilahkan untuk menikmati pemandangan alam yang di tata mirip  Jepang di area duduk zabuton yang merupakan alas terbuat dari busa dengan lapisan kain dan meja rendah. Setelah selesai menikmati hidangan teh hijau ocha, saya berkeliling area masih menggunakan yutaka dan sandal kayu ala Jepang yang disediakan. Di restorannya, saya sempat pesan yakiniku. Plong banget deh berasa sedang melarikan diri ke Jepang.

Chiang Mai Onsen

  1. White Temple Chiang Mai

Wat Rong Khun, lebih dikenal sebagai “Kuil Putih” adalah salah satu kuil paling dikenal di Thailand. Kuil ini letaknya ada di luar kota Chiang Rai. Karena lokasinya yang jauh, biasanya pengunjung datang dalam satu paket tour mengunjungi tempat wisata Chiang Rai dari Chiang Mai satu hari.

Kuil Wat Rong Khun ini terlihat baru tapi sebenarnya telah di pugari. Sebelum di renovasi, kuil ini terlihat sangat buruk. Renovasi ini diinisasi oleh satu seniman terbesar Thailand – Chalermchai Kositpipat yang memutuskan untuk membeli dan merenovasi bangunan suci dengan dana sendiri senilai 40 juta Baht (1,2 juta USD)

White Temple Chiang Mai Wat Rong Khun

Mural di dinding dalam kuil Wat Rong Khun memiliki jumlah Budha sebanyak jumlah tokoh Holywood di dalamnya. Lukisan besar kepala iblis di dalam kuil ini ditutupi dengan semua jenis berhala modern (Neo dari Matrix, Pokemon, Hello Kitty, Michael Jackson, dll). Mereka semua mewakili distraksi yang dihadapi manusia dalam pencarian mereka untuk menemukan pencerahan sejati.

Temple Chiang Mai

Saya sendiri sangat suka pada paduan warna putih dan keemasan dalam kuil ini. Toiletnya saja penuh dengan pernak pernik bernuansa emas. Di jalan masuk menuju kuil ini, terdapat tangan tangan menjulur seperti hendak minta tolong dari alam baka. Hiyy….

  1. Long Neck Girl

Dua dekade lalu, perang saudara yang semakin sengit antara separatis Karenni dan tentara Burma menyebabkan warga Kayar meninggalkan Myanmar. Thailand memberikan izin warga Kayan tinggal sementara di bawah status “pengungsi konflik”.  Saat ini, ada sekitar 500 orang Kayan (juga dikenal sebagai orang Padaung) yang tinggal di desa-desa yang dijaga di perbatasan Thailand utara.

Suku ini memiliki kebiasaan di mana beberapa wanita mengenakan cincin untuk menciptakan penampilan leher panjang.  Tradisi eksotis ini menginspirasi penciptaan desa wisata pada tahun 1985.

Long Neck Chiang Mai

Pada saat saya datang ke desa ini, ada satu area khusus di mana komunitas long neck berjajal di satu area oval yang bisa di putari sekitar 5-10 menit. Sejujurnya berkunjung ke area ini terasa sangat turis, karena jelas sekali area ini bukan tempat tinggal mereka hanya showcase pakaian dan wanita yang menggunakan kalung longneck dan jajalan kerajinan tangan kelompok ini.

 

  1. Golden Triangle

Golden Triangle adalah area di mana perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar bertemu di sungai Ruak dan Mekong. Nama Golden Triangle merujuk pada area sekitar 950.000 kilometer persegi (367.000 mil persegi) yang tumpang tindih dengan pegunungan di tiga negara tersebut. Dalam bahasa lokal Thailand dikenal dengan nama Sop Ruak, karena merupakan pertemuan antara Sungai Ruak dengan Sungai Mekong.

Golden Triangle Thailand

Tanahnya yang subur membuatnya terkenal sebagai penghasil opium pada zaman dulu. Golden Triangle kini menjadi salah satu destinasi favorit para wisatawan yang melancong khususnya ke Thailand bagian utara. Saya berangkat ke Golden Triangle dengan paket wisata yang sehari yang sudah meliputi Chaing Rai.

Dari Golden Triangle ini saya sempat berkunjung sebentar ke Laos dengan menggunakan kapal kayu sederhana. Meskipun saya di Laos cuma sempat makan siang dan liat-liat oleh-oleh, tapi lumayan lah berkunjung ke negara baru.

Selain tujuh tempat tersebut, sebenarnya Chiang Mai punya banyak tempat wisata alam lain yang layak di kunjungi. Sayangnya waktu saya terbatas. Plusnya lagi masakan Thailand murah dan enak, buat saya betah untuk eksplor café dan restoran unik di kota ini.

Kalau kamu rencana traveling ke Thailand, cek juga artikel tempat wisata rekomendasi di Thailand, persiapan traveling jangka panjang di Thailand, rekomendasi hotel di Bangkok, rekomendasi tempat wisata di Bangkok dan itinerary di Bangkok.

Kamu berniat ke Chiang Mai kah? Atau sudah pernah ke Chiang Mai? Apa tempat favorit kamu di Chiang Mai? Share di komen ya.