Mungkin nama negara Nicaragua tidak terlalu sering terdengar di masyarakat Indonesia. Wajar saja karena negara ini sebenarnya bukan tujuan destinasi turis yang cukup terkenal. Saya sendiri saat ini sedang traveling di Nicaragua karena saya sedang melanjutkan studi saya di Costa Rica, negara tetangganya. Simak petulangan saya keliling Central Amerika di tulisan ini.

Awalnya di pesawat KLM dari Amsterdam menuju San Jose (Ibu kota Costa Rica), saya iseng pesan Wifi unlimited seharga 16 euro untuk cari-cari tempat rayakan Tahun Baru 2023. Saya dan suami sengaja pesan tiket tanggal 30 Desember supaya bisa rayain Tahun Baru di benua yang baru. Setelah meng-google di udara kita akhirnya putuskan tetap akan rayain Tahun Baru di Costa Rica tapi melimpir ke Nicaragua (negara tetangga nya setelah pergantian tahun).

Saya tidak memiliki visa Costa Rica, tapi dengan visa visitor US B1/B2, pemilik paspor Indonesia bisa mengunjungi sejumlah negara di Amerika Tengah tanpa visitor visa seperti Mexico, Panama, Gutamela, El Salvador, Belize dan Honduras. Nicaragua sendiri satu-satunya negara Amerika Tengah di mana paspor Indonesia bisa masuk tanpa visa, cukup membayar tourist entry.

Nantinya kamu kemungkinan di tanya berapa lama di Nicaragua dan apakah sudah punya tiket keluar atau belum. Kalau belum tau kapan pastinya keluar atau lanjut ke negara mana, kamu bisa pesan dummy tiket di situs ini www.dummyticket.com

Walking Tour Granada

Saya dan pasangan memutuskan untuk traveling ke Nicaragua dengan menggunakan bus malam karena metode transportasi tersebut lebih murah di bandingkan pesawat. Waktu perjalanan sekitar 12 jam ke Managua (ibu kota Nicaragua). Jarak tempuh dengan menggunakan mobil biasa sebenarnya bisa lebih singkat namun karena kita memesan bus dari San Jose ke Nicaragua, pemeriksaan di perbatasan cenderung lebih lama.

Kita akhirnya memesan bus Ticabus (selain bus ini ada lagi alternatif bus bernama Nicabus). Harganya kurang lebih sama sekitar 32 dolar sekali jalan. Bus berangkat jam 2 pagi (ya pagi pagi buta!) dari San Jose. Karena jamnya agak ganjal, saya sengaja tidur dulu di rumah sebelum berangkat karena saya tau saya bukan orang yang gampang tidur di bus. Sebenarnya ada juga alternatif jam lain yakni berangkat jam 7 pagi dan tiba jam 7 malamnya, tapi saya gak mau menghabiskan waktu produktif di jalan.

Nicabus Trip

Tepat jam 00.15 malam, saya dan suami di jemput teman satu kampus (yang terhasut untuk ikutan) di jalanan depan rumah. Kita tiba di terminal Ticabus jam 00.30 pagi dan di persilahkan ke ruang tunggu penumpang untuk proses boarding. Tepat setengah jam sebelum bus berangkat, kita di persilahkan untuk boarding dengan menunjukkan paspor dan tiket. Petugas juga mengingatkan ada biaya 8 dolar untuk exit tiket keluar dari Costa Rica. Sejujurnya baru pertama kali pengalaman harus bayar biaya keluar dari negara. Biaya ini bisa di bayar secara online atau cash kepada petugas di perbatasan.

Saya sudah siap sedia bawa jaket dan kaos kaki karena membaca review bahwa di dalam bus AC nya sangat dingin dan benar aja dong dingin banget sampai berembun gitu. Saya juga sediakan sleeping mask untuk bisa setidaknya coba tidur sedikit.

Border Nicaragua

Selama perjalanan, bus hanya berhenti sekali yakni jam 4.30 pagi di salah satu restoran/warung 24 jam di utara Costa Rica. Saya sempat coba makanan nasi dan kacang merah plus sup suir daging ayam tipikal makanan latin yang rasanya agak hambar (gak kayak makanan Indonesia yang kaya bumbu).

Perjalanan melintasi perbatasan ini penuh dengan pohon dan melewati area hutan juga. Sekitar jam 8.30 kita sudah sampai di perbatasan Peñas Blancas. Proses imigirasi keluar dari Costa Rica tidak memakan waktu lama, namun pada saat masuk ke Nicaragua proses pengecekan bagasi, random cek, antrian, pengecekan covid dan proses pengecekan plus interview paspor satu per satu lumayan memakan waktu lama. Total waktu sekitar 2,5 jam di perbatasan. Biaya yang di keluarkan adalah sebesar 14 dolar:

  • 10 dolar biaya tourist entry
  • 3 dolar biaya imigrasi
  • 1 dolar biaya untuk municipality (pemda)

Baiknya sediakan dolar untuk memudahkan pembayaran. Pada saat di bus ada juga ibu-ibu yang masuk untuk servis  ‘cambio’ alias tukar duit dari dolar atau mata uang Colon Costa Rica ke mata uang Nicaragua Cordoba. Kami memutuskan untuk menukarkan sedikit uang saja siapa tau perlu di perbatasan.

Cambio Lady in Tica Bus

Begitu memasuki wilayah Nicaragua, sejujurnya saya merasa seperti berasa di wilayah pedesaan di Indonesia. Pemandangan tanaman tanaman tropis, kanan kiri jalan yang sangat rindang, rumah dari kayu dan bata sederhana serta sampah di pinggir jalan (duh).

Kota utama yang kita kunjungi adalah Granada, kota ini merupakan kota yang penuh dengan bangunan kolonial ala Spanyol yang sangat indah dan berlokasi tepat tepi danau Nicaragua.  Kota kecil ini di dirikan di abad 16 dan banyak bangunana bersejarah yang indah dan warna warni di sini. Suasananya berasa banget sedang di Central Amerika dan kalau malam banyak bar dengan lagu lagu caribian dan latin Amerika.

Kita tiba jam 12 siang di Granada, karena letaknya lebih Selatan jadi jarak tempuh lebih dekat di banding ibukota Nicaragua, Managua. Ada sekitar 10 menit kami berjalan dari titik perhentian bus ke lokasi akomodasi yakni Selina Granada. Selina adalah chain hotel/coworking yang lokasinya ada hampir di seluruh Latin Amerika. Begitu tiba di kota ini, vibe liburannya udah terasa banget dengan rumah rumah yang berwarna warni, pintu pintu yang super besar dan café/restoran hipster.

Selina Granada

Selina Granada lokasinya tepat di depan central park, pusat Granada.

Cerita traveling di Nicaragua selama 5 hari kedepan akan di sambung di blog selanjutnya ya! Yang pasti biaya traveling di Nicaragua gak terlalu mahal karena perekomomian negara ini juga belum semaju negara tetanggannya.

Traveling Aja Dulu Book Olivia Purba