Banyak orang beranggapan kalau mereka yang sekolah hingga memperoleh gelar S3 adalah orang yang pintar. Saya adalah salah satu yang beranggapan demikian hingga akhirnya saya merasakan sendiri bagaimana kehidupan menjalani pendidikan S3. Selama menjalani masa-masa tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa pintar saja tidak cukup. Menjalani masa pendidikan S3 dengan beasiswa di Jepang benar-benar membutuhkan mentalitas yang kuat hingga kesehatan jasmani dan rohani yang baik.

Menurut saya, kemampuan akademis tanpa diiringin mentalitas yang kuat dan sebaliknya tidak akan cukup untuk menghadapi tantangan ini. Kombinasi kemampuan akademis, mentalitas, hingga taktik dan strategi adalah cara yang saya lakukan agar bisa bertahan hingga lulus tepat waktu dalam menempuh pendidikan S3 di Jepang. Tentunya selalu ada faktor keberuntungan juga. Tulisan ini akan membahas sedikit banyak tentang pengalaman menjalani program pendidikan S3 di Tokyo Institute of Technology di negara Jepang.

Traveling Aja Dulu Book Olivia Purba

Alasan Kuliah Dengan Beasiswa Di Jepang

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan impian banyak orang. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya orang yang berlomba-lomba agar bisa menempuh pendidikan di universitas terbaik, baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satu negara yang menjadi tujuan dalam melanjutkan pendidikan baik itu S2 maupun S3 adalah Jepang.

Tidak dipungkiri lagi, Jepang yang notabene tergolong negara maju mempunyai daya tarik yang kuat bagi para mahasiswa Indonesia dalam melanjutkan pendidikan di negara tersebut. Hal ini ditunjang dengan banyaknya universitas unggulan serta program beasiswa yang ditawarkan baik itu dari pemerintah Jepang maupun beasiswa dari perusahaan-perusahaan di Jepang.

Salah satu universitas yang menjadi incaran mahasiswa asing khususnya Indonesia adalah Tokyo Institute of Technology (Tokyo Tech). Khusus untuk mahasiswa asing, Tokyo Tech mempersiapkan program International Graduate Program (IGP) menjadi tiga katagori: IGP-A, IGP-B, dan IGP-C.

Penjelasan lengkap untuk masing-masing program dapat dilihat melalui link berikut ini: https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/international/international_graduate/

Salah satu target dari program ini adalah mahasiswa asing yang ingin melajutkan pendidikan S2 maupun S3 tanpa perlu belajar Bahasa Jepang karena program ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Selain itu, tersedia pula beasiswa penuh dari pemerintah Jepang (beasiswa MEXT) bagi mereka yang memenuhi kriteria.

Saya merupakan salah satu penerima beasiswa MEXT untuk katogori IGP-A, yaitu beasiswa untuk program S2 dan S3 dari tahun 2012 hingga 2017 untuk bidang studi Teknik Nuklir. Tujuan utama dari tulisan ini adalah membagikan pengalaman selama mengikuti pendidikan S3 di Tokyo Tech selama 3 tahun di Tokyo Tech.

Salah satu mata kuliah wajib mahasiswa nuklir di Tokyo Tech adalah melakukan eksperimen di salah fasilitas nuklir.

Program IGP-A Beasiswa MEXT Jepang 

IGP-A adalah program yang disediakan oleh Tokyo Tech bagi mereka yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan secara terintegrasi mulai dari S2 hingga S3. Hal ini berarti, setelah lulus S2 maka langsung lanjut program S3.

Pemerintah Jepang akan memberikan beasiswa penuh melalui beasiswa MEXT selama 5 tahun, dengan sistem pemberian 2 tahun untuk program S2 dan 3 tahun untuk program S3. Besaran beasiswanya juga berbeda untuk program S2 dan S3. Beberapa keuntungan yang diperoleh penerima beasiswa MEXT adalah: tiket pulang pergi dari Indonesia-Jepang kelas ekonomi, bebas biaya kuliah selama 5 tahun, tunjangan hidup setiap bulan selama 5 tahun1. Selain keuntungan, tentunya ada aturan main bagi penerima beasiswa MEXT seperti: tidak akan ada perpanjangan beasiswa apabila penerima beasiswa tidak bisa lulus tepat waktu.

Keuntungan Program IGP-A Beasiswa MEXT Jepang

Tujuan akhir program ini adalah menghasilkan lulusan S3. Oleh karena itu, topik penelitian yang akan dikerjakan pada umumnya mempunyai kesinambungan dari topik penelitian pada saat S2. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan topik penelitian pada saat S3 berbeda dengan apa yang diteliti saat S2.

Saya cukup beruntung karena topik penelitian S3 merupakan lanjutan dari apa yang sudah saya kerjakan pada saat S2. Hal ini membuat saya tidak harus memulai dari nol. Meskipun demikian, keuntungan ini tidak memberikan jaminan 100% untuk dapat lulus tepat waktu (3 tahun). Tidak sedikit juga mahasiswa Program IGP-A yang harus melakukan perpanjangan masa studi mulai dari 3 bulan hingga 2 tahun atau lebih.

Ingat, tidak ada perpanjangan beasiswa MEXT apabila masa studi S3 lebih dari 3 tahun. Hal ini menjadi tantangan bagi saya mengingat seluruh biaya hidup selama di Jepang hanya mengandalkan dana beasiswa.

Syarat Lulus Program S3 Beasiswa MEXT Jepang

Sama seperti ketika kita menempuh pendidikan S1, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa untuk lulus seperti: jumlah minimal SKS, mengerjakan skripsi hingga lulus sidang pendadaran. Demikian juga halnya dengan program S3 di Tokyo Tech, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menyelesaikan program ini. Syarat tersebut adalah terpenuhinya jumlah minimum SKS, mengikuti program internship dengan durasi minimal 3 bulan, mengikuti berbagai conference baik itu domestik maupun internasional, dan yang paling utama adalah telah menerbitkan tulisan ilmiah di jurnal international. Tentunya syarat wajib lainnya adalah menulis disertasi dan mengikuti sidang pendadaran terbuka dan tertutup.

Yang menarik adalah mengenai jumlah minimal tulisan ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal internasional. Jumlah minimal ini berbeda-beda di setiap universitas. Berdasarkan pengalaman saya selama disana, ada beberapa rumor mengenai jumlah minimal ini:

  • Satu publikasi internasional dan satu lagi sedang dalam tahap review. Untuk kasus ini hanya bisa ikut sidang pendadaran terbuka. Sedangkan untuk sidang tertutup (penentuan kelulusan) dilakukan setelah satu tulisan ilmiah yang sedang di review tersebut dinyatakan lolos dan akan dipublikasikan.
  • Dua publikasi internasional dan satu lagi sedang dalam tahap review. Untuk kasus ini bisa mengikuti sidang pendadaran terbuka dan tertutup.
  • Tiga publikasi internasional. Apabila bisa menghasilkan tiga publikasi internasional dalam masa 3 tahun studi S3 maka kecil kemungkinan tidak lulus tepat waktu.

Mengetahui informasi dari para kakak kelas mengenai syarat minimal publikasi internasional, saya pun menetapkan target minimal yang ada di point kedua, dua publikasi internasional. Setidaknya amanlah untuk bisa ikut sidang terbuka dan tertutup. Hal ini tentunya ditentukan tidak secara sembarangan, melainkan mengetahui dan sadar betul akan kemampuan diri.

kuliah di jepang

Tugas kelompok maupun individu hingga larut malam adalah hal yang biasa dilakukan semasa studi S2 maupun S3.

Target dan Strategi Lulus Kuliah di Jepang Tepat Waktu

Target dan strategi adalah dua hal penting yang selalu saya lakukan mulai dari bangku kuliah di Teknik Nuklir UGM. Hal ini pun berlanjut ketika memasuki dunia kerja selepas lulus dari UGM. Ketika mengetahui bahwa saya menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa MEXT untuk program IGP-A, hal yang ada dipikiran saya adalah apa target dan bagaimana strategi mencapai target tersebut.

  • Target

Sebelum berangkat ke Jepang, target utama saya adalah lulus program IGP-A dalam waktu 5 tahun. Hal ini tentunya berkaitan dengan kondisi finansial. Apabila tidak bisa lulus dalam waktu 5 tahun, bagaimana saya memenuhi semua kebutuhan hidup maupun uang kuliah?

Setelah di Jepang dan mendengar banyak informasi tentang syarat untuk lulus S3 terutama mengenai publikasi internasional, maka saya mengambil target akan menghasilkan dua publikasi agar bisa mengikuti sidang pendadaran terbuka dan tertutup.

  • Strategi

Hal yang perlu dilakukan setelah menetapkan target adalah strategi untuk mencapai target tersebut. Semenjak menjalani kuliah di UGM, saya sudah terbiasa membuat target tiap semester khususnya yang berhubungan dengan kegiatan akademik. Hal yang sama juga yang saya terapkan selama mengikuti program IGP-A di Tokyo Tech.

  1. Manajemen Semangat.

Mungkin sedikit aneh didengar, tapi percaya atau tidak, mengelola semangat itu sangatlah penting. Tanpa adanya semangat yang kuat, niscaya akan sulit mencapai target utama. Saya harus bisa mengelola agar semangat yang saya punya ketika awal mengikuti program IGP-A bisa tetap sama hingga akhir program ini. Banyak orang yang semangat diawal, kemudian kendor bahkan hilang ketika ditengah jalan sudah menemukan hambatan dan rintangan.

Manajemen semangat yang saya terapkan berhubungan erat dengan apa yang menjadi motivasi saya menempuh pendidikan S3. Dari kecil saya sudah bercita-cita menjadi peneliti. Hal ini yang memacu semangat saya dalam menempuh pendidikan S3 dengan segala tantangannya.

beasiswa s3 luar negeri

Makan siang bersama profesor dan anggota lab sambil menikmati keindahan bunga sakura di kampus.

  1. Menyelesaikan semua perkuliahan di kelas sewaktu S2.

Pada umumnya, program S2 dan S3 di Jepang adalah berbasis penelitian, artinya lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium daripada di kelas.

Karena program IGP-A adalah integrase S2 dan S3 maka kita bisa memadatkan mata kuliah di kelas sewaktu S2. Hal ini memberikan keuntungan karena pada saat S3 bisa lebih fokus dalam penelitian tanpa terganggu jadwal perkuliahan di kelas.

Dalam hal ini, saya cukup beruntung karena profesor pembimbing tidak memberikan beban penelitian yang berat di tahun pertama program S2. Hal ini membantu saya dalam menyelesaikan semua perkuliahan di kelas pada tahun tersebut. Sehingga tahun-tahun berikutnya khususnya S3 saya menghabiskan seluruh waktu di laboratorium untuk mengerjakan penelitian.

  • Disiplin

Disiplin adalah salah satu kunci dalam menentukan tercapainya target yang telah direncanakan. Tentu saja, target yang dibuat akan dipengaruhi oleh faktor dari luar dan dari dalam diri sendiri. Setidaknya, dengan disiplin, maka kita bisa memberikan faktor dari dalam diri sendiri hasil yang optimal.

Contoh sederhananya adalah publikasi di jurnal internasional. Kita tidak bisa memastikan proses publikasi ini berjalan dengan cepat karena ada faktor luar yaitu pihak editor maupun reviewer. Yang bisa kita optimalkan adalah faktor dari dalam diri kita sendiri, yaitu disiplin mengerjakan penelitian sehingga bisa memperoleh hasil dan menuliskannya menjadi draft untuk disubmit ke jurnal internasional.

Ada dua disiplin yang saya terapkan selama di Jepang: disiplin waktu dan displin makan.

  • Disiplin waktu

Hampir kebanyakan profesor memberikan waktu yang fleksibel kepada para mahasiswa bimbingannya untuk mengerjakan penelitian di lab. Ada juga profesor yang menerapkan sistem core time artinya mahasiswa harus berada di lab minimal dari jam tertentu hingga jam tertentu. Pengalaman di lab tempat profesor pembimbing, beliau menerapkan sistem yang fleksible, artinya mahasiswa bisa datang jam berapapun di hari tersebut. Tetapi sebisa mungkin mengerjakan penelitian dari lab. Selain itu, hari Sabtu dan Minggu tidak ada paksaan untuk datang ke lab.

Disiplin waktu dari diri sendiri sangat penting melihat sistem yang diterapkan beliau di lab. Tanpa adanya disiplin tentunya akan terlena dengan kebebasan yang diberikan. Saya selalu berusaha datang ke lab antara pukul 09:30 hingga 10:00 pagi setiap hari Senin hingga Jumat. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu, saya memberikan toleransi terhadap diri sendiri untuk datang ke lab di siang atau sore hari. Sedangkan untuk waktu pulang saya lebih fleksibel. Terkadang saya pulang jam 7 malam, jam 10 malam, jam 12 malam hingga jam 2 pagi. Semuanya tergantung terhadap target harian yang sedang saya kerjakan.

  • Displin makan

Selain disiplin dengan waktu kerja, hal yang penting yang saya lakukan adalah disiplin terhadap jam makan. Bagi saya, jam makan ini sangat penting dalam menunjang semua aktifitas penelitian saya. Mungkin terlihat agak aneh bagi sebagian orang, tapi saya selalu sarapan sebelum berangkat ke lab, makan siang antara jam 12.00 – 12.30, dan makan malam antara jam 19.00- 20.00. Sesibuk apapun kegiatan saya di lab, mau itu sedang membuat simulasi atau sedang menganalisa data, ketika waktunya jam makan, pasti saya akan berhenti dan mengutamakan jam makan.

Kesehatan adalah hal penting dalam hidup, “Untuk apa saya lulus S3 tapi setelah itu kondisi saya sakit-sakitan? Iya kalau lulus, kalau gak lulus dan saya sakit-sakitan, kan yang rugi saya sendiri”.

Ikut arahan profesor pembimbing.

Mungkin pepatah ‘Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’ sangat tepat ketika melanjutkan studi di negeri Jepang.

Apa yang muncul dibenak kita ketika akan memulai studi S2 atau S3 di luar negeri? Ingin meneliti tentang topik A, B, C, hingga Z? Ingin ikut berbagai macam conference dan bergabung dengan berbagai macam organisasi baik itu dikampus maupun di luar kampus? Semua itu boleh saja. Tapi sebaiknya mengkomunikasikan semua hal tersebut dengan profesor pembimbing khususnya mengenai topik penelitian.

Setiap profesor pastinya punya visi dan misi yang ingin dicapai di dalam lab yang dibinanya. Setiap mahasiswa dibawah bimbingannya pun akan diarahkan mengerjakan hal yang berbeda-beda tapi mempunyai tujuan yang sama yaitu tercapainya visi dari lab tersebut.

Permasalahan utama adalah bagaimana ketika apa yang ingin kita kerjakan tidak sesuai dengan target dari profesor pembimbing. Tidak sedikit dari para mahasiswa yang terlalu idealis sehingga cenderung memaksakan kehendaknya tanpa bisa melihat tujuan besar dari apa yang dipikirkan profesor pembimbing. Tidak sedikit yang akan beranggapan ‘salah masuk lab’.

Saya pun sempat berpikir demikian diawal karena apa yang saya kerjakan tidak 100% sama dengan proposal penelitian yang saya tulis diawal. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, saya memahami kalau ada target besar yang ingin dicapai oleh profesor pembimbing dan saya sebagai salah satu mahasiswa bimbingannya harus berkontribusi dalam mendukung tercapainya target tersebut.

Mengikuti arahan dari pembimbing bukan berarti tidak bisa sama sekali berdiskusi mengenai penelitian. Berdasarkan pengalaman dibawah naungan beliau, profesor pembimbing memberikan tema besar untuk penelitian yang akan dikerjakan, dan para mahasiswa menentukan sendiri tahapan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dari tema besar tersebut.

Diskusi mingguan dengan profesor pembimbing.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal yang harus dilakukan oleh profesor pembimbing mulai dari penelitian, mengajar, rapat, urusan administrasi, seminar, membimbing para mahasiswanya,dll.

Saya adalah orang yang paling beruntung bisa menempuh pendidikan S2 dan S3 dibawah bimbingan beliau. Saya ingat sekali pesan beliau kepada salah satu anak didiknya yang baru diangkat menjadi Associate Professor disalah satu universits: ‘Tidak peduli seberapa sibuknya pekerjaanmu, selalu harus memberikan waktu untuk penelitan’. Penelitian disini tidak ditujukan kepada diri sendiri tetapi terhadap penelitian mahasiswa yang dibimbing.

Salah satu keuntungan yang saya peroleh dibawah bimbingan beliau adalah diskusi dua kali seminggu dengan jadwal yang teratur, Senin dan Rabu. Hari Senin adalah diskusi umum dihadiri oleh semua anggota lab dengan tujuan memaparkan secara umum apa yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan seminggu kedepan. Sedangkan Hari Rabu adalah diskusi individu yang membahas secara detail perkembangan penelitian hingga kondisi pribadi baik itu kesehatan, rencana kedepannya, hingga kendala yang dihadapi selama di Jepang.

Diskusi mingguan ini tentunya sesuatu hal yang sangat bermanfaat bagi saya untuk mengetahui seberapa jauh penelitian yang sudah dikerjakan dan bagaimana hubungannya dengan target utama saya.

Seperti yang saya sudah beritahu, tidak semua profesor pembimbing menyediakan waktu setiap minggu kepada mahasiswanya untuk berdiskusi. Ada yang berdiskusi sekali sebulan, berdiskusi apabila sudah ada hasil, atau ada berdiskusi ketika apa masalah penting dalam penelitian.

Disamping itu, bisa jadi ada mahasiswa yang tidak nyaman dengan metode diskusi mingguan dan nyaman dengan diskusi bulanan atau yang lainnya. Setiap orang punya cara dan strategi yang berbeda-beda dalam memonitor perkembangannya. Bagi saya, cara ini cukup ampuh dalam mencapai target utama.

Breakdown target utama

Salah satu cara yang saya lakukan dalam membreakdown target utama adalah dengan membuat target tahunan. Hal ini memudahkan saya dalam memonitor perkembangan demi memperoleh tujuan utama.

  • Tahun pertama S3.

Target utama saya di tahun ini adalah menyelesaikan internship dan mengikuti conference. Selain itu target tambahan saya adalah menulis paper untuk disubmit ke jurnal internasional.

  • Tahun kedua S3.

Saya cukup beruntung karena diawal tahun kedua, saya sudah berhasil mempublikasikan satu tulisan ilmiah di jurnal internasional. Hal ini memacu semangat saya untuk menaikkan target publikasi dari dua menjadi tiga. Target di tahun ini adalah satu publikasi di jurnal internasional dan mengikuti international conference.  Lagi-lagi, saya cukup beruntung karena diakhir tahun kedua, satu lagi tulisan bisa dipublikasi di jurnal internasional.

  • Tahun ketiga S3.

Melihat kondisi terutama jumlah publikasi internasional yang sudah memenuhi syarat minimal. Fokus utama di tahun ketiga studi S3 adalah menulis disertasi, mencari kerja dan satu publikasi internasional.

Kesimpulan

Tidak bisa dipungkiri bahwa selalu ada faktor keberuntungan yang menyertai setiap orang. Bahkan istri yang menyaksikan sendiri perjuangan saya menyelesaikan studi S3 sering berkata bahwa saya salah satu orang yang beruntung bisa lulus tepat waktu. Karena dia tahu bahwa saya bukanlah orang yang cukup pintar. Masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari saya. Keberuntungan adalah faktor dari luar. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan.

Motivasi mengambil studi S3 akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap daya juang selama menjalani studi S3. Tanpa motivasi yang kuat niscaya akan mudah terombang-ambing bahkan bisa menyerah ditengah-tengah perjuangsan menjalani studi S3.

Setiap orang mempunyai strategi masing-masing sesuai dengan motivasi dan targetnya. Pastikan strategi yang diterapkan tepat dan realistis dalam mencapai target.

beasiswa jepang

Akhirnya tidak terasa perjalanan selama 3 tahun untuk meraih gelar doctoral.

Referensi

[1]https://liapto.com/2018/08/21/mengoptimalkan-beasiswa-mext-untuk-pemenuhan-kebutuhan-hidup-di-tokyo-bagi-mahasiswa-doctoral-s3-yang-membawa-keluarga/

Tentang Penulis: Irwan Liapto saat ini bekerja di  Japan Atomic Energy Agency di Jepang. Ia kerap menuliskan pengalamannya menempuh kuliah, kerja  serta membesarkan keluarganya di Jepang di websitenya https://liapto.com/