Tahu kah kamu kalau paspor Indonesia sudah di bebaskan visa mengunjungi negara Brazil 30 hari sejak 2018! Saya pun gak mau ketinggalan mengunjungi negara tropis yang penduduknya super duper ramah ini! Yuk simak pengalamanku traveling di Brazil di awal tahun tahun 2020 ini! Mulai dari budaya, makanan, bahasa dan kebiasaan orang Brazil! Seru banget bisa traveling di Brazil pada saat karnaval!

Trip ini merupakan bagian dari perjalanan keliling duniaku selama 6 bulan tahun 2020 lho!

Ibukotanya Negara Brazil itu Brasilia

Mungkin banyak yang mengira kalau ibu kotanya Brasil adalah Rio De Janeiro atau Sao Paulo, ternyata ibu kota Brasil adalah Brasilia.

Ibukota Brasil di pindahkan tahun 1960 ke lahan kosong di tengah tengah negara Brazil yang kemudian di bangun dari awal. Lahan ini di namakan Brasilia.

Awalnya ibu kota Brasil di pindah dari Rio De Jeneiro karena dua alasan utama:

  1. Pemerataan penduduk dan ekonomi
  2. Untuk menciptakan integrase wilayah

Ternyata setelah di implementasikan hasilnya bagus! Brasilia adalah kota dengan pendapatan per kapita tertinggi se-negara Brazil.

Dengar-dengar konsep ibukota Indonesia yang dipindahkan ke Kalimantan, terinspirasi dari negara Brazil lho. Mungkin ide pemindahan Ibu kota ini bisa berdampak positif juga untuk pemerataan sumber daya di Indonesia, seperti di Brazil.

Meskipun Ibukotanya sudah pindah, Indonesia tetap memiliki Konsulat Jendral di Rio De Jenairo (selain tentunya Kedutaan Besar di Brasilia). Karena memang banyak masyarakat Indonesia yang berlibur ke Brasil perginya liat pantai cantik di Rio!

rio-de-janeiro

Makanan Banyak Menu Daging Sapi

Kalau mau makan di warung-warung ala warteg di Brazil, paling gampang ketemu menu daging sapi. Makanan orang Brazil banyak opsi daging sapinya karena ternyata Brazil adalah negara exporter daging sapi di dunia (mengalahkan Australia).

Uniknya lagi, makanan khas negara Brazil selain di sugguhkan dengan nasi, juga kerap di sugguhkan kentang goreng. Kebanyakan karbohidrat buat aku cepat kenyang euy! Apalagi porsi makan di Brazil cukup besar (bisa sharing untuk dua orang kalau di Indonesia).

Kalau di Indonesia kita makan biasanya ditemani acar atau kerupuk, di Brazil dikasih salad mini dan sup (isi kacang atau daging).

Makanan Brazil

Makanan khas ala Brazil

Acai, Superfood Ala Brazil

Pertama kali ke Brazil pasti heran karena di mana-mana banyak cafe yang menu spesialnya adalah Acai. Acai ini adalah sejenis buah berry yang tumbuh di Amazon (tumbuhan native Brazil). Lebih dari 90 persen produksi Acai berasal dari Brazil, sisanya adalah negara tetanggannya seperti  Peru, Surinama, dan Trininad dan Tobago.

Acai ini pun disajikan dengan berbagai cara yang kamu pun gak pernah banyangkan sebelumnya: Acai smoothy ball, di buat jus, jus campur jeruk, jus campur buah lainnya, dicampur madu, campur makanan, es krim, shampoo, conditioner, bahkan serum.

Acai Brazil

Acai Brazil di acara food tour tempo hari!

Emang kegunaannya Acai apa sih? Acai di percaya bisa membantu radang sendi, kolesterol tinggi, disfungsi ereksi, penurunan berat badan dan obesitas, detoksifikasi, cegah penuaan kulit, menyembuhkan sindrom metabolik, dan untuk meningkatkan kesehatan secara umum (yang semua klaim tersebut belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah).

Bahasa Portugis

Banyak orang Brazil tidak fasih berbahasa Inggris, bahkan di restoran mewah dan hotel bintang 5 sekalipun. Masyarakat Brazil lebih paham Bahasa Spanyol, mungkin karena lokasinya di Amerika Selatan yang artinya negara-negara tetangganya pakai Bahasa Spanyol semua.

Bahkan kalau buka Spotify, 50 top songs favorit Brazil adalah lagu berbahasa Portugis/Spanyol. Jarang banget ada lagu Bahasa Inggris yang menempati posisi atas.

Brazil Spotify

Nih gak ketemu kan top song Bahasa Inggris.

Saya sendiri karena sempat tinggal di Kolombia sekitar 3 bulan, saya ngerti sedikit Bahasa Spanyol. Banyak kosa kata Bahasa Spanyol yang mirip dengan Bahasa Portugis, jadinya kemampuan Bahasa Spanyol saya yang cetek banget jadi handy di sini!

Alat Transportasi di Negara Brazil Bervariasi

Di Sao Paulo dimana saya telah tinggal selama seminggu, banyak sekali opsi transportasinya: bus, subways, bus elektrik taxi, sepeda dan skuter listrik. Untuk yang kedua terakhir bisa kamu sewa di berbagai titik di jalan yang memang di sediakan untuk publik.

Caranya kamu harus download aplikasinya dulu, isi data kamu (termaksud kartu kredit) dan ikuti instruksi yang tertulis (yang terkadang nyebelin karena cuma pakai Bahasa Portugis).

Kalau untuk taxi, saya pribadi lebih suka pesan via Uber karena ratenya udah fix. Selain Uber ada alternative transportasi daring lain juga di Brasil, Namanya 99Taxis yang ratenya lebih murah dari Uber.

Saya pribadi paling favorit naik Uber karena subways cuma meng-cover area tertentu dan harganya gak terlalu beda jauh sama Uber (plus door to door di antarnya). Sementara kalau naik bus suka bingung arahnya kemana dan lama nunggunya!

Kalau sepedaan dan skuter listrik paling enak kalau hari lagi cerah dan jam sore biar gak terik!

Lihat pengalamaku keliling Sao Paulo dengan sepeda di video Youtube di bawah. Subscribe ya!

Sao Paulo Mirip Jakarta  

Setelah tinggal di Sao Paulo selama seminggu saya makin yakin bahwa Sao Paulo mirip dengan Jakarta.

Pertama, macet! Sao Paulo terkenal dengan kemacetannya seperti di Jakarta. Dari tahun ke tahun jumlah mobil baru yang di pesan di Sao Paulo tidak sepropsi dengan tingkat jumlah penduduknya.

Makanya kalau ada lahan kosong sedikit di Sao Paulo, sering di sewakan tempat pentipan mobil.

Tempat Parkir Brasil

Salah satu contoh tempat parkir di Brasil

Selain itu di Sao Paulo juga jelas terlihat ketimbangan sosial. Ada area mewah, rumah besar dan keamanan lengkap ala Kemang, tapi ada juga area kumuh dengan ukuran rumah super kecil terbuat dari tripleks.

Di Sao Paulo sama dengan di Jakarta, kita harus berwaspada karena bisa kejadian penjambretan, pick pocket dan banyak peminta-minta di jalan (untungnya saya belum pernah mengalami, amit amit!

 

Negara Brazil Luas dan Masyaratnya Beragam

Luas negara Brazil adalah 8.511 million km² atau lebih dari empat kali Indonesia. Sementara jumlah penduduknya hampir menyaingi Indonesia yakni 210 juta jiwa.

Mirip dengan Indonesia, Brasil bermasalah dengan hutan tropisnya. Banyak hutan tropis di Brasil di tebang untuk di tanam jagung, tebu, kopi, kapas,, beras, kedelai dan gandum (banyak tanaman monokultur yang gak baik untuk kesuburan tanah).

Masyarakatnya nya pun beragam ras di Brasil. Ada yang kelihatannya seperti kaukasian ada yang tampang kaukasia tapi kulitnya lebih coklat ada yang kulit gelap tapi hidung mancung banget dan yang tampang kuakasia tapi matanya sipit.

Ternyata Brazil adalah melting pot dari berbagai budaya di dunia. Awalnya masyarakat Portugis datang ke Brazil untuk meyebarkan agama sekaligus meluaskan daerah koloni dan mengambil kekayaan alam.

Masyarat Portugis akhirnya nikah campur dengan masyarakat pribumi. Karena butuh tenaga kerja yang lebih banyak, budak dari Afrika yang berkulit gelap di bawa ke negara Brazil antara tahun 1501 to 1866. Masyarakat Afrika ini kemudian nikah campur lagi dengan masyarakat Brazil yang rasnya juga sudah campur antara kaukasia dan pribumi. Akhirnya background ras mereka sudah blur.

Di sekitar tahun 1917-1940 ada sekitar 164,000 orang Jepang datang dari Jepang dan sekitar 75 persennya ke São Paulo.

Karena migrasi besar ini, di Sao Paulo bahkan ada kampung Jepang karena jumlah penduduk keturunan Jepang di Sao Pualo hingga 1,4 juta orang!

Liberdade street market Brazil

Bukan lagi di Jepang ya tapi di Sao Paulo.

Saya sendiri sempat berkunjung ke food market Jepang di Sao Paulo bernama Liberdade street market yang buka setiap weekend.

Banyaknya migrasi penduduk dari berbagai belahan dunia membuat negara Brazil benar-benar kaya ras! 

Elektronik Mahal Mending Beli Sandal Jepit

Sering kali orang Brazil traveling ke Amerika Serikat untuk mencari barang-barang elektronik seperti Iphone, Mac atau elektronik dari Amazon. Karena ternyata barang elektornik import di Brasi mahal! Pajaknya bahkan bisa mencapai 70 persen.

Kalau ke negara Brazil mending jangan beli barang-barang elektronik, tapi cukup beli sandal Havaianas saja.

Pengalaman saya beli sandal Havaiana di Sao Paulo, yang di Indonesia harganya bisa Rp.300.000 sepasang, di sini cuma Rp.100.000!

Ya wajar dong soalnya Havaianas perusahaan Brazil dan banyak memproduksi sandalnya di Brazil!

Havaianas

Fokus ke sandalanya mereknya Havaianas!

Stay di Vila Madalena di Sao Paulo

Kalau berkunjung ke Sao Paulo, saranku tinggal di area Vila Madalena karena selain banyak tempat kerennya seperti cafe/bar/shop juga arsty banget lho! Banyak murral keren warna warni dan tempatnya aman dan enak keliling jalan kaki.

Selina Vila Madalena

Kamarku di Selina Vila Madalena, hommey banget kan!

Selama di sini aku tinggal di hostel/hotel Selina Vila Madalena. Recommend banget! Karena pas di tengah area Vila Madalena. Selina juga punya beberapa cabang di Brazil dan di seluruh dunia bahkan! Asiknya di sini ada dapurnya, bar/resto di bawah, live music, bioskop gratis, coworking space dan tempatnya masih baru!

Cek disini untuk liat opsi hotel di sekitar Vila Madalena!



Booking.com

Traveling Aja Dulu Book Olivia Purba